SMA Don Bosco 2 berhasil meraih Gold Award di Advance Innovation Creative Olympic (AI-JAM JAPAN)

Sekolah Don Bosco yang berada dibawah naungan Yayasan Panca Dharma kembali mengirimkan delegasi terbaiknya ke ajang pameran dan kompetisi inovasi dunia di Jepang. Tim ini diwakili oleh siswa-siswi dari SMA Don Bosco II yaitu Geraldi Kolin, Juan Luciano Ika, Fidelia Sutoyo dan Daniel Ryan Fugaha. Terdapat lebih dari 150 delegasi dari seluruh dunia dan 17 diantaranya merupakan delegasi dari Indonesia.

Produk inovasi buatan siswa-siswi SMA Don Bosco II yang berjudul Smart Automation Traffic Intervention System (SATIS) berhasil meraih Gold Award di ajang Advance Innovation Creative Olympic (AI-JAM JAPAN) pada 8 Desember 2019 di Accenture Tokyo Innovation Hub, Jepang.

Advance Innovation JAM – JAPAN merupakan salah satu ajang kompetisi khusus untuk para inventor, pelajar, mahasiswa, peneliti, pengusaha dan juga perusahaan untuk mempromosikan inovasi atau penemuan baru mereka di Jepang. Inovasi yang dipamerkan harus sudah terintegrasi dengan teknologi cyber physical system seperti kecerdasan buatan (Artificial Intelegence), Big Data, Robotika, IoT (Internet of Things). Selain pameran inovasi, event yang di selengarakan oleh AI JAM, ASCAAI (American Society for Convergent Applications in All), Gugen Jepang dan Hacker Dojo ini juga mengadakan seminar mengenai teknologi di industri 4.0.

Inovasi Smart Automation Traffic Intervention System (SATIS) yang dikembangkan oleh siswa-siswi SMA Don Bosco II merupakan pengembangan sistem pencatatan pelanggaran lalu lintas yang menggunakan scanner dan tag, yang dimana tag akan ditanamkan ke pelat nomor kendaraan bermotor. Sistem ini akan ditempatkan di lampu merah dengan pemindai RFID dibawah jalan. Cara kerja alat ini adalah sebagai berikut, ketika lampu lalu lintas berwarna merah sistem akan aktif dan memindai pelat nomor kendaraan yang telah ditanamkan scanner dan tag. Jika ketika sistem aktif (lampu merah) ada kendaraan yang melewatinya, maka data pemilik kendaraan tersebut akan masuk ke database dan pemilik kendaraan yang melanggar tersebut akan mendapatkan surat tilang yang dikirimkan melalui e-mail.

Penelitian ini diawali dari lomba Olimpiade Penelitian Siswa Indonesia (OPSI) tingkat kotamadya Jakarta Timur pada bulan April lalu dan berhasil meraih juara I. Tak berhenti sampai disitu Puji Anastasia (guru Fisika) selaku inisiator dan pendamping tim ini mendaftarkan penelitian ini ke ajang kompetisi inovasi internasional yaitu International Young Inventors Award (IYIA) 2019. Dengan membuat prototype pelanggaran lalu lintas, SATIS, sekali lagi membuat juri-juri IYIA kagum akan inovasi yang mereka buat.

“SATIS merupakan penemuan inovasi yang sangat bagus karena dengan memanfaatkan sensor dari RFID dan tag, kita dapat mengetahui pelanggaran yang dilakukan pengendara bermotor. Ini sangat relevan dengan tujuan industri 4.0 yang lebih mengandalkan teknologi otomatis (automation) tanpa banyak membutuhkan campur tangan manusia dalam pengoperasiannya” ujar Ryan Kho, founder and CEO AI-JAM USA.

Penemuan inovasi SATIS berhasil mendapatkan Gold Award di International Young Inventors Award 2019, dan juga berhasil mendapatkan special award  dari Indonesian Accreditation Board for Engineering Education (IABEE).

Dan pada bulan Desember lalu didampingi oleh Mauritz Sinaga (guru TIK) dan Billy Tantono (guru TIK) selaku guru pendamping di AI-JAM Jepang, SATIS yang dikembangkan lagi dengan teknologi cyber physical system berupa blockchain dan IoT (Internet of Things).